Let's Talk With Me Caramel Jingga
Di episode pertama ini aku ingin berbagi cerita sebagai mahasiswa baru di tahun 2020. Udah hampir setahun sejak aku excited buanget buat jadi anak kampus. Tapi sayang, di awal tahun 2020 tepat pada bulan April Indonesia menjadi salah satu negara yang terdampak virus Corona atau nama lainnya itu Covid-19.
Dari situlah semua cerita bermula. Aku mengurus semua berkas dari pendaftaran sampai finalnya dengan metode online. Feeling goods? Literally that's not easy like that you see. Aku harus bertarung dengan waktu agar bisa masuk ke portal sekolah Horgworts. Eh, universitas Riau maksudnya. Jadi, itu bocoran nama kampusku.
Untuk mengurus segala berkas itu aku butuh waktu setidaknya dua bulan. Sebenarnya cuman satu minggu saja sudah siap. Namun aku tidak se-sederhana itu. Aku harus bolak-balik ke kantor desa, ke sekolah, dan mengurus berkas lainnya yang membutuhkan tanda tangan orang-orang yang berkepentingan. Ditambah saat itu aku mencoba peruntungan dengan mendaftar beasiswa bidikmisi.
Rasanya lega sekali setelah segala berkas sudah ku-input dalam portal. Usai hari tenang aku hanya menunggu pengumuman dari pihak kampus untuk info masuk kelas. Sayangnya, saat sudah mengisi KRS masih tak ada kejelasan kapan kampus akan mengumumkan hari masuk kelas tatap muka.
Bahkan kegiatan orientasi kemahasiswaan dilakukan secara online. Aku hanya memakai jilbab hitam dengan baju putih dan selayaknya MABA (Mahasiswa Baru) ada tag nama yang dibuat dari karton untuk dikalungkan di leher. Sesekali aku menguap menahan kantuk. Lalu ada doorprise untuk MABA yang ditunjuk dan bisa menjawab pertanyaan narasumber. Sayangnya, dari sekian banyak narasumber tak ada yang menyebut namaku. Hingga aku tak mendapat kesempatan menjawab apalagi mendapat hadiah, hiks.
Kegiatab orientasi itu berakhir kurang lebih seminggu kemudian. Aku mulai memilih UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) sesuai keinginanku. UKM ini semacam ekstrakurikuler di sekolah. Ada Pramuka, PMI, Bahana (sejenis media jurnalistik kampus), Al-Madani (rohis), dan masih banyak yang lainnya. Aku sempat mendaftarkan diri di Bahana, namun sayang aku tak lolos. Mungkin masih ada banyak hal yang perlu aku perbaiki. Lalu pada akhirnya aku menjadi bagian dari FSC (Fisip Science Club) dan Al-Madani rohis.
Awal memasuki mata kuliah diriku sangat bersemangat. Ya, meskipun pembelajaran dilakukan secara daring. Kami menggunakan media zoom, google meet, whatsaap group, dan classroom. Kadangkala dosen juga meminta kami untuk menyimak pembelajaran dari Youtobe. Salah satu hal yang membuat lelah adalah duduk di depan laptop. Aku tidak memiliki kursi, sehingga rasanya punggungku lelah sekali.
Kemudian aku mulai bertemu dengan dosen-dosen secara virtual. Mereka memiliki beragam karakter dari masing-masing individu. Salah satu hal yang mungkin membantu untuk memahami materi kuliah meskipun daring ini adalah menyimak dengan baik penyampaian dosen dan mencari tahu sumber-sumber lain. Selalu ingat adab itu berada di atas ilmu.
Jadi, kalau mau paham sama ilmu dari dosen kita juga kudu menghormati dosen. Enggak peduli seberapa kita enggak suka sama cara dia ngajar, kita enggak boleh mencela mereka. Aku tahu ini mungkin sulit, tapi kamu juga akan tahu gimana dampaknya di satu atau dua tahun di masa mendatang.
Menjadi mahasiswa daring kadangkala terasa jenuh untukku. Terlepas dari kemudahan yang ada, namun aku merasa sekolah seorang diri. Ada perasaan khawatir ketika bertemu dengan teman-teman yang selama ini hanya aku kenal dari online. Apakah mereka baik? apa mereka menyukaiku? Apa mereka membenciku?
Kemudian rasa lelah dan bosan kadang menjadi musuh. Kadangkala aku berbaring karena lelah padahal dosen masih berbicara. Huwaa, ini jangan ditiru ya! Namun aku sampaikan sekali lagi! Adab ada di atas ilmu! Kelakuan seperti itu tentu sangat tidak baik. Hiks, maafkan diriku bapak ibu dosen.
Nanti kita bicara lagi di episode lainnya ya. See you
Nb: Masa SMA yang sangat lugu :) eh ....




Komentar